Sabtu, 04 Juni 2011

Balada Televisi


Tergelitik dari sebuah obrolan di sebuah warung wedangan tempat saya dan teman2 seper-pengajian (yang mayoritas bapak2) berkumpul. Warung wedangan/ angkringan/ hik /kucingan yang menjadi basecamp hampir setiap malam, sekedar bercengkrama, maupun membahas apa yang baru saja disampaikan pak ustadz. Salah seorang teman bercerita bahwa tadi ada yang meminta tanggapan pak ustadz terkait sebuah program kajian kini sedang booming yang disiarkan di TV setiap pagi, namun pak ustdaz tidak bisa memberi jawaban karena tidak pernah menonton acara – acara televisi di rumahnya.
--------------------------------------------------------------------
Kasus di atas bukan yang pertama saya temui. Beberapa waktu yang lalu saat berkunjung ke rumah salah seorang teman senior, TV di ruang tengahnya tertutup kain yang dari penampilannya menandakan bahawa kain tersebut tidak pernah dibuka, atau dengan kata lain, TV tidak pernah dinyalakan.
--------------------------------------------------------------------
Bagi masyarakat kebanyakan, tentu ini merupakan sebuah hal yang sedikit aneh. Hampir setiap rumah di Indonesia mempunyai kotak hiburan yang bernama televisi ini. Melalui TV ini pula, informasi dapat disampaiakan kepada jutaan pasang mata dalam waktu yang bersamaan, baik itu informasi dengan muatan positif maupun negatif. Program – program televisi, ternyata begitu dahsyat pengaruhnya terhadap perilaku orang yang menontonnya, tontonan – tontonan yang disuguhkan lambat laun menjadi tuntunan bagi yang melihatnya, gaya hidup artis, musik, bahkan ide melakukan kejahatan dari tayangan kriminal.
Kalau melihat isi program TV di Indonesia, memang tidak sedikit yang hanya menyuguhkan tayangan kurang berisi dan tidak mendidik. Acara musik, hampir tiap hari, sore, malam, bahkan pagi. Pernah suatu saat lewat di jalan, anak kecil, mungkin TK aja belum, sudah melafazkan “cinta satu malam, oh indahnya “ dengan bahasa yang masih cadel atau pelo (dalam bahasa jawa). Selain itu, saya kadang berpikir, mereka yang biasa di pinggir panggung acara musik yang tayang pagi hari, joget-joget, apa pada ga sekolah....???
Selain musik, ada acara yang bikin kecanduan ibu2 mulai maghrib sampai larut malam, apa itu, ya benar, S.I.N.E.T.R.O.N. Kalau dulu waktu saya amsih SD, biasanya kalau udah jam9, acaranya tinggal Dunia Dalam Berita yang bikin males nonton dan akhirnya pilih tidur, lha sekarang, sinetron sampai jam 10 malam. Dari maghrib sampai jam 10, sekitar 4 jam, kita disuguhi cerita di luar nalar, tak jauh dari cinta, rebutan warisan, konflik yang tidak logis, air mata, plus musik pengiring yang mendayu – dayu membumbui setiap adegannya. Semakin miris tatkala mendengar ibu-ibu mengrumpikan isi cerita certa tadi malam sampai menebak – nebak bagaimana kelanjutannya nanti.
Jika hal yang melenakan atau memabukkan itu dilarang, minuman keras dan narkoba misalnya, dua tayangan di atas tak jauh beda. Ada dampak psikologis yang diterima para penikmat acara tersebut. Ada teman yang kuliah di psikologi bilang, terlalu banyak menonton sinetron, membuat porsi berpikir otak menjadi berkurang karena dipakai untuk menerima input yang berupa angan-angan belaka.
Kembali pada kotak bernama televisi. Kalau begitu apakah kita ga usah pasang TV aja di rumah. Bahkan ada yang ekstrim, TV haram, karena banyak mudharatnya. It’s up to you. Kuncinya adalah pada diri kita sendiri, itu yang saya pahami. Kalau memang bisa memilah dan memilih tontonan dengan konsisten, saya rasa tidak masalah. Saat menonton TV dengan anak misalnya, lebih bijak jika didampingi. Tapi kalau kita sebagai orang tua merasa kurang bisa mendampingi dan menyaring, meniadakan TV di rumah sepertinya juga pilihan yang cukup bijak, setidaknya berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk.
Tak bijak kalau menjadikan televisi sebagai kambing hitam. Manusia saja tidak mempunyai dosa bawaan, apalagi TV yang benda mati. Seperti hal nya motor, motor dapat dipandang bermanfaat oleh para pedagang karena penggunaannya memang tepat untuk membantu pekerjaan, namun dapat dipandang mudharat oleh orang tau yang anaknya gemar balapan liar. Segala kenyataan membutuhkan kedewasaan dalam penyikapan. Correct me if i wrong.

Senin, 16 Mei 2011

The Power of Words

 
            Jika ada sesuatu yang lembut, namun lebih tajam dari pedang, itulah lidah. Kata - kata yang keluar darinya, seringkali menimbulkan efek yang luar biasa, baik negatif maupun positif, dan bagi saya pribadi video tadi adalah salah satu contohnya.
        Entah itu video fiktif atau nyata, yang penting pelajaran yang bisa diambil. Seringkali ortu bilang "Di sekolah jangan nakal, jangan malas, ya" kepada anaknya, kalau saya lebih milih " Di sekolah yang nurut, yang rajin, ya" saat nganter adik ke TK. Teman yang belajar psikologi bilang, kata "tidak", "jangan" dan kata negatif lainnya cenderung lebih sulit dicerna otak. Meskipun saya ga tahu benar teorinya, tapi kayanya terbukti deh. Misalnya, masih kata teman saya, saat ada anak kecil di atas meja, dan dibilangin "Jangan naik, nanti jatuh", tapi anak tadi malah makin asyik di situ. Itu karena, otak lebih cepat memproses kata "naik". Lebih baik bilang "Ayo turun, hati-hati turunnya" maka itu akan lebih mudah dicerna otak si kecil. (Lho kok, jadi bahas masalah anak2, kan saya belum jadi bapak.....hehehe)
            Ya, itulah sebuah contoh efek kata-kata pada lingkup yang kecil. Dan dengan membiasakan diri menggunakan kata-kata positif. Bisa jadi dunia dapat kita rubah, atau setidaknya dapat kita beri warna. Ada sebuah pesan mulia,
 Dari Abu Hurairah r.a, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam…” 
[HR Mutafaqun ‘alih]

yang saya pahami dari hadits ini adalah, bahwa kita dianjurkan untuk selalu proaktif menebarkan kebaikan melalui kata-kata, motivasi, nasehat dan doa. Kalau sekiranya kata-kata yang akan keluar akan menjadi keluhan, cacian, sumpah serapah, atau sesuatu negatif lainnya, diam lebih baik. Jangan sampai salah mengartikan dengan diam selalu dengan dalih bahwa diam itu emas. JIka diam adalah emas, maka perkataan yang baik akan merubah bongkahan emas menjadi perhiasan yang jauh lebih bernilai.

Senin, 09 Mei 2011

Sekolah Kedinasan

STAN merupakan sekolah kedinasan yang paling etrkenal. Tapi bukan beratri STAN satu-satunya, masih ada lagi kok ternyata. Emang sih, ga mungkin kalo saya sekolah lagi di sini, Info ini saya dapat dari milis. So, untuk teman, saudara, adik-adik atau ponakan yang ingin kuliah tetapi tidak ingin membebani biaya kuliah kepada orang tua, atau tamat kuliah langsung penempatan di Kementerian RI, alternatifnya bisa daftar ke:



1. STIS – di bawah Badan Pusat Statistik (dapat uang saku per bulannya Rp. 850.000), pendaftaran online (4 april s.d. 20 Mei 2011 di www.stis.ac.id). Lokasi kuliah Jakarta

2. AKAMIGAS-STEM – Akademi Minyak dan Gas Bumi di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI. Lokasi kuliah Cepu, Jawa Tengah (Kawasan Rig dan pengeboran minyak) – Info bisa dilihat di www.akamigas- stem.esdm. go.id

3. MMTC – Sekolah Tinggi Multi Media Training Center di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kominfo), pendaftaran online (21 Februari s.d. 11 Agustus 2011 di www.mmtc.ac. id). Lokasi kuliah di Yogyakarta

4. STSN – Sekolah Tinggi Sandi Negara – di bawah Lembaga sandi Negara, pendaftaran online diwww.stsn-nci. ac.id Lokasi kuliah di Bogor

5. STKS – Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial di bawah Kementerian Sosial RI. Pendaftaran offline di Kemenkes RI, Bandung, Yogyakarta, Padang, Banjarmasin, Makassar, Jayapura, Palu. Info diwww.stks.ac. id

6. STPN – Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional di bawah Badan Pertanahan Nasional RI. Pendaftaran online di www.stpn.ac. id Lokasi kuliah Yogyakarta

7. IPDN – Institut Pemerintahan Dalam Negeri di bawah Kementerian Dalam Negeri RI. Pendaftaran offline di Bagian Kepegawaian Daerah Kabupaten/ Kota seluruh Indonesia. Lokasi kuliah Jakarta, Pekanbaru, Manado, Bukittinggi, Makassar.

8. AKIP – Akademi Ilmu Permasyarakatan di bawah Kementerian Hukum dan HAM. Pendaftaran online di www.depkumham.go.id atau www.ecpns-kemenkumham.go.id Lokasi kuliah di Depok. akip.ac.id

Sebenarnya masih banyak sekolah kedinasan yang ada, untuk selengkapnya, bisa di cek di 

Selamat menempuh hidup baru ! ! !